Hasil Bahtsul Masail Muktamar 30 Th.1999 di PP.Lirboyo Kediri - Indonesia
Hisab astronomi (perhitungan falakiah) ditempatkan sebagai pendukung, guna memprakirakan waktu konjungsi (al-ijtima’) dan kadar ketinggian hilal di atas ufuk. Konsekuensi dari metode hisab astronomi adalah berlakunya peta mathlak secara lokal (per negara). Penetapan mathlak hanya berlaku lokal negara setempat bisa difahami dari perintah Rasulullah SAW kepada pejabat Amir kota Makkah saat beliau menunaikan ibadah haji. (HR Abu Dawud dari Husein bin Al-Haris Al Jadaly).
Masyarakat akhir-akhir ini sering dikacaukan oleh seruan berhari raya Idul Fithri berpedoman pada hari Idul Fithri di negeri Saudi Arabia. Baru-baru ini Yayasan al Ihtikam melaksanakan hari raya Idul Adha juga mengikuti Idul Adha negeri Saudi Arabia. Kedua cara tersebut bermaksud melegalisir ru’yatul hilal negara Saudi Arabia sebagai rukyat internasional.
(Mutabaqqiyat dari reaksi warga Nahdliyyin pada perilaku Yayasan
Al-Ihtikam).
Deskripsi Masalah :
Visibilitas hilal yang terjadi dengan melihat hilal
memperbantukan indera mata ru’yatul hilal
merupakan pilihan utama dalam pemikiran jumhur fuqaha bila akan menetapkan awal
bulan qamariyah. Cara lain bila mengalami kegagalan adalah dengan metode istikmal.
Hisab astronomi (perhitungan falakiah) ditempatkan sebagai pendukung, guna memprakirakan waktu konjungsi (al-ijtima’) dan kadar ketinggian hilal di atas ufuk. Konsekuensi dari metode hisab astronomi adalah berlakunya peta mathlak secara lokal (per negara). Penetapan mathlak hanya berlaku lokal negara setempat bisa difahami dari perintah Rasulullah SAW kepada pejabat Amir kota Makkah saat beliau menunaikan ibadah haji. (HR Abu Dawud dari Husein bin Al-Haris Al Jadaly).
Masyarakat akhir-akhir ini sering dikacaukan oleh seruan berhari raya Idul Fithri berpedoman pada hari Idul Fithri di negeri Saudi Arabia. Baru-baru ini Yayasan al Ihtikam melaksanakan hari raya Idul Adha juga mengikuti Idul Adha negeri Saudi Arabia. Kedua cara tersebut bermaksud melegalisir ru’yatul hilal negara Saudi Arabia sebagai rukyat internasional.
Pertimbangan Hukum :
1.
Lokasi kepulauan Indonesia jelas berbeda mathlaknya dengan Arab Saudi.
2.
Ru’yatul hilal
yang gagal terjadi diseluruh wilayah Indonesia, bisa saja berhasil dilakukan
oleh negara lain, termasuk Saudi Arabia karena saat terbenam matahari mereka 4
(empat) jam lebih kebelakang dibanding waktu standar Indonesia.
3.
Kriteria Imkanur
ru’yah hasil kesepakatan MABIMS adalah :
a.
Ketinggian hilal dua derajat.
b. Umur bulan minimal
delapan jam saat konjungsi.
4.
Ibnu Abidin dalam kitab الرد المحتار جزء 2 ص39 dalam substansi uraiannya menempatkan
mathlak negara setempat sebagai acuan pokok penetapan awal bulan qamariyah, utamanya bulan
Dzulhijjah.
Pertanyaan :
Bagaimana
hukum menetapkan awal bulan qamariyah khususnya awal Ramadlan, Syawal dan Dzul
Hijjah berdasarkan rukyat al hilal Internasional
untuk pedoman beribadah di Indonesia ?
Jawab :
Umat Islam
Indonesia maupun Pemerintah Republik Indonesia
tidak dibenarkan mengikuti rukyat al hilal Internasional, karena berbeda mathlak dan tidak berada dalam
kesatuan hukum .
Dasar Pengambilan :
1- فتح البارى بشرح البخارى للحافط ابن حجر
العسقلانى الجزء الرابع ص 123
وعبارته : ثانيها مقابله اذا رؤي ببلدة لزم اهل
البلد كلها وهو المشهور عند المالكية، حكى ابن عبد البر الإجماع على خلافه وقال
اجمعوا على انه لاتراعى الرؤية فيما بعد من البلاد.
2- فتاوى شرعية "عبد الله ابن
عمر ابن يحي العلوى" ص 110
وعبارته : (الاول) لزوم الصوم على جميع الناس
المصدق بالرؤية وغيره وشرطه ان يتحد مطلع البلدين او البلدان وان زاد مابينهما على
مسافة القصر.
3- فتح
البارى الجزء الرابع ص123
وعبارته : وقال ابن الماجيشون : لايلزمهم
بالشهادة إلا لأهل البلد الذى ثبتت فيه الشهادة إلا ان يثبت عند الإمام الاعظم
فيلزم كلهم، لأن البلاد فى حقه كالبلد الواحد اذ حكمه نافذ فى حكمه.
Komentar
Posting Komentar